Showing posts with label Free Article. Show all posts
Showing posts with label Free Article. Show all posts

Lestarilah Jomblo !

|
Lestarilah Jomblo - Hidup ini sesungguhnya sederhana. Jalani saja apa yang ada dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya. Berusaha, berharap, berkeinginan, tentu baik-baik saja. Tapi dasari itu semua dengan penyerahan diri kepada Tuhan.

Lestarilah Jomblo

Begitulah!
Bahwa dunia jomblo tidak selalu kusam dan muram. Ada banyak warna di sana. Tergantung kita yang menjalaninya. Dan semua itu berawal dari hati. Hati yang bersyukur akan membuat pikiran kita jernih. Pikiran jernih akan melahirkan sikap-sikap produktif. Tentunya akan menjadi baik buat kita.
Sebaliknya, hati yang penuh keluh akan membuat pikiran kita kusut dan suntuk. Pikiran kusut dan suntuk hanya akan melahirkan sikap-sikap kontra produktif. Yang salah-salah malah bisa menggilas diri kita sendiri. Banyak kejadian buruk yang terjadi atau diperparah oleh sikap kita sendiri.
Jadi, sesungguhnya, baik dan buruknya hidup ini kerap tergantung pilihan kita sendiri juga. Kita mau berpikir dan bersikap positif atau kita mau berpikir dan bersikap negatif ?! Terserah anda. As You Wish. Mangga kersa (kata orang jawa). Mana mana jo pa ngana (kata orang manado). Kumaha maneh (kata orang sunda).

Begitulah!
Bahwa otak kita terlalu terbatas untuk memahami seluruh realitas yang terjadi dalam hidup ini. Kenapa, misalnya, kita lahir sebagai si Anu dan bukan si Ani? Kenapa kita lahir di negeri sini dan bukan di negeri sana?
Entah seribu kali entah!
Kadang ngejomblo juga begitu. Tanpa alasan yang logis. Kan ada tuh orang yang dari tampang okelah walau tidak cakep-cakep amat, tapi juga tidak jelek. Usia boleh dibilang matang. Karier bagus. Sifat dan kelakuan oke-oke saja. Kemauan dan usaha juga cukup. Tapi koq ya jomblo terussss? Gelap seribu kali gelap!
Dalam situasi demikian, lalu bagaimana?
Tidak ada cara lain, terima apa yang ada dengan lapang dada. Legowo (kata orang jawa). Jalani apa adanya. Jangan mengeluh. Toh mengeluh tidak akan ada gunanya. Malah bisa nambah beban. Jangan mencari-cari kambing hitam. Kita malah jadi tidak introspeksi diri. Jangan juga menyalahkan diri sendiri. Itu tidak akan menyelesaikan masalah.
Tanamkan keyakinan bahwa Tuhan lebih tahu yang terbaik buat diri kita. Tidak mungkin Dia mengizinkan sesuatu kita jalani kalau itu buruk. Dia pasti punya rencana yang baik dalam setiap keputusan-Nya.
Oleh karena itu, hidup ini sesungguhnya sederhana koq. Jalani saja apa yang sudah Tuhan sediakan dengan baik dan benar. Punya keinginan tentunya tidak salah, berharap juga boleh-boleh saja, berusaha keras mewujudkan keinginan dan harapan itu perlu. Tapi iringilah semua itu dengan penyerahan diri kepada Tuhan. Kita berusaha, tetap Tuhanlah yang menentukan.

Begitulah!
Bahwa hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan. Kita ingin begini, jadinya malah begitu. Kita tidak ingin ada di sini, eh malah ada di sini.
Tetapi itu baik, justru berbahaya kalau semua keinginan kita terpenuhi. Sebab kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok dan lusa. Apa yang kita pandang sekarang ini baik, belum tentu pada kenyataannya di masa yang akan datang baik pula. Malah bisa saja menjerumuskan, dan bikin kita nyesel setengah mati.
Contohnya ini. Ada seorang gadis yang begitu sangat ingin punya pacar, terus menikah, dan punya anak. Cukup lama ia ngejomblo. Sampai akhirnya dengan segala cara keinginannya terpenuhi. Ia punya pacar, menikah, setahun kemudian punya anak. Tapi apa yang terjadi? Suaminya ternyata berubah adat. Ya, suka main pukul. Ya, pengangguran tulen. Ya, melarang ia ketemu teman-teman baiknya. Ia jadi benar-benar menyesal telah menikah. Tahu begini jadinya, tidak bakalan deh dulu-dulu itu aku gebet pingin kawin. Duh biung! begitu rintihnya.
Keinginan kita juga biasanya sangat situasional dan emosional. Misalnya, karena sedang merasa kekspian dan melihat orang lain punya pacar koq enak gitu. Lalu kepengen punya pacar. Jadinya ia gundah gulana mikirin kejombloannya. Atau pun sudah punya pacar, lalu melihat pacar orang lain koq romantis dan baik hati. Jadinya tidak puas dengan pacar yang sudah ada. Pengen tukar. Yang sudah ada di lepas, yang nun jauh di sana diuber-uber. Mending kalau dapat dan sesuai harapan. Lah kalau tidak?! Gigit jarilah dia. Syukurin.
Maka yang terbaik hidup ini mengalir sajalah. Go with the flow. Tapi jangan salah loh, mengalir bukan mengalir pasrah tanpa berusaha. Mengalirlah dengan aktif. Seperti burung yang terbang mengikuti kemana angin membawa, tapi tetap sambil mengepakkan sayap. Tiga kata kuncinya : BERUSAHA, BERSERAH DIRI, dan BERDOA. by Ayub Yahya

Jomblo - BERUSAHA BERSERAH DIRI DAN BERDOA

Demikian artikel tentang lestarilah jomblo. Semoga bermanfaat dan salam jomblo. "Happy Blogging"

Peluru Anti Jomblo

|
Peluru Anti Jomblo - Pernikahan bukanlah tujuan hidup manusia. Pernikahan hanyalah salah satu sarana untuk mencapai tujuan hidup yang sebenarnya. Lalu, apakah tujuan hidup manusia yang sebenarnya? Tidak lain dan tidak bukan tujuannya adalah bahagia, damai, sejahtera, dan menjadi berkah. Bisakah seseorang itu bahagia, damai, sejahtera, dan menjadi berkah tanpa menikah? Bisa saja. Toh, sekali lagi, pernikahan itu hanya salah satu sarana. Bukan satu-satunya.

Peluru Anti Jomblo
Peluru Anti Jomblo

Ketika Tuhan mencipatakan manusia laki-laki dan perempuan, konon laki-laki diciptakan dari debu tanah. Tidak jelas apakah Tuhan bikin adonan dulu, lantas di uyek-uyek, baru kemudian dibentuk (kayak kita bikin boneka dari tanah liat gitu loh). Atau cuma gini "Puffz...!" (ditiup). Lalu, duaaaar jadilah si laki-laki.
Sedangkan perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, ketika ia tengah tertidur. Kenapa mesti laki-laki itu tertidur?! Mungkin Tuhan tidak mau digerecoki. Dia ingin menciptakan "makhluk" yang benar-benar "eksklusif" sesuai dengan cita rasa-Nya (kabar baik bagi kaum perempuan di seluruh dunia nih, hehehe). Untuk itu dibutuhkan ketenangan dan konsentrasi tingkat tinggi.
Bayangin saja kalau laki-laki itu sampai tahu bahwa Tuhan sedang membuat "makhluk" yang nantinya akan menjadi pasangan hidupnya. Bisa-bisa ia akan banyak nuntutnya. "Hidungnya kurang mancung, Tuhan. Kulitnya mesti putih seputih bengkoang, lembut selembut kapas. Tapi putihnya jangan kebanyakan dong, nanti jadi terlihat pucat, jelek ah. Rambutnya hitam mengkilap tergerai sampai punggung. Kayak yang diiklan shampoo di TV itu loh, Tuhan. Masak Tuhan tidak tahu. Badannya mesti tinggi langsing dan padat berisi. Tidak kurus tidak gemuk. Tidak terlalu tinggi, tidak terlalu pendek. Biar asyik dilihat gitu. Hmm, Tuhan, dadanya kurang montok tuh. Tiup dikit lagi dong. Weittt, jangan terlalu ngegelembung. Nanti malah miring ke depan berabe..." dan seterusnya-seterusnya.
Kenapa dari tulang rusuk?
Ada satu penjelasan yang menarik. Begini, "Wanita tidak diciptakan dari tulang kaki, supaya tidak diinjek, tidak diciptakan dari tulang kepala supaya tidak nginjek. Tapi diciptakan dari tulang rusuk, supaya dekat di hati. Untuk menjadi teman seiring sejalan, saling mengasihi, saling mendukung sebagai mitra sekerja dan sepenanggungan." (Wuiiidih, ideal banget kan?!).
Dan, kenapa pula laki-laki yang diciptakan terlebih dahulu?!
Ada dua penjelasan, yakni yang serius dan tidak serius. Yang tidak serius ini. Setelah selesai menciptakan Adam, Tuhan pun lantas berkata, "Sungguh ciptaan yang baik. Tapi kalau Aku coba lagi, Aku pasti bisa bikin yang lebih baik". Maka jadilah Hawa! (kabar baik lagi bagi kaum perempuan di seluruh dunia, hehe).
Tetapi itu kan tidak serius. Cuman joke. Yang serius, konteks zaman dahulu kan ada budaya patriakha yakni budaya yang menonjolkan kedudukan pria. Jadi jelas pria digambarkan "lebih" dari wanita. Sampai-sampai kata ganti untuk Tuhan pun bentuknya maskulin : He (dalam bahasa inggris). Sebagai pencipta, Sang Khalik, Yang Tidak Terbatas, Tuhan  tentu melampaui kategori-kategori yang bsia dikenakan kepada manusia sebagai makhluk ciptaan.
Tidak ngerti? Tidak apa-apa. Itu manusiawi koq. Sebab, sebagai makhluk yang terbatas, mana mungkin kan kita dapat mengerti dan memahami tentang Tuhan yang Maha Tidak Terbatas?!.

Sampai di situ, okelah. Tapi masalahnya adalah pernyataan ini "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri".
Kenapa ini menjadi masalah sih?
Karena pernyataan ini lantas suka diartikan bahwa manusia itu harus punya pasangan, bahwa hidup sendiri atau jomblo abadi itu tidak baik di mata Tuhan.
So, mereka yang anti jomblo, semisal orang tua yang susah hati or malu hati or tidak enak hati melihat anaknya sendiri terus kerap menjadikan pernyataan ini sebagai peluru untuk mengancam, memprovokasi, mendorong, menggoda si jomblo supaya segera keluar dari tempurung kejombloannya dan membuka diri terhadap pasangan hidup.
Sedangkan bagi mereka, para jomblowan-jomblowati terutama yang ngejomblo bukan karena pilihan tetapi lebih karena "apa daya tangan tak sampai" pernyataan itu jelas sangat menggelisahkan. Bikin hati galau, pikiran carut-marut. Ujungnya bisa aneh-aneh deh. Lebih celaka lagi kalau mereka lantas asal membuka diri : siapa saja yang mau, samber saja (Ihhh kayaq jemuran deh).
Lalu bagaiman dong memahami pernyataan ini?
Kata "baik" dalam bahasa ibrani "tov" mempunyai arti yang luas, yaitu berkenaan dengan hidup yang indah, lengkap, adil, suka cita, damai, dan sejahtera. Dan, ungkapan seorang diri sebetulnya juga tidak menunjuk pada status jomblo. Orang yang ngejomblo kan tidak "seorang diri". Ia hidup di tengah orang banyak di sekitarnya seperti saudaranya, temannya, tetangganya. Jadi tidak berbicara tentang pernikahan, tapi tentang kesepadanan antara pria dan wanita.
Singkatnya begini. Dunia dan segala isinya yang Tuhan ciptakan ini sungguh baik adanya. Tetapi akan menjadi tidak baik dalam arti yang luas tadi itu, kalau manusia hanya sejenis. Pria atau wanita saja. Karena itu pria dan wanita, keduanya, harus sama-sama ada. Mereka diciptakan untuk saling melengkapi. Yang satu tidak lengkap tanpa yang lain, begitu... By Ayub Yahya

Demikian tulisan singkat mengenai peluru anti jomblo. Semoga bisa bermanfaat utnuk semuanya. "Happy Blogging"

Andai di Dunia Ini Tidak Ada Jomblo

|
Andai di Dunia Ini Tidak Ada Jomblo - Setiap orang punya hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, termasuk dengan memilih ngejomblo. Kalau karena desakan, dorongan, provokasi, paksaan, atau pun sikap kita seseorang itu lantas mengambil keputusan yang kemudian justru membuatnya sengsara, kita ikut bertanggung jawab juga loh. Ingat itu. So dont do it.

Andai di Dunia Ini Nggak Ada Jomblo
Andai di Dunia Ini Nggak Ada Jomblo

Dunia ini akan runyam kalau semua orang ngejomblo. Tapi kalau tidak ada yang ngejomblo, dunia ini juga akan runyam. Hehehe, bingung? begini, Coba aja bayangin, apa jadinya dunia ini kalau semua orang punya pasangannya sendiri-sendiri, satu cewek untuk satu cowok. Pas tidak kurang, tidak lebih???.
Manusia yang beranak pinak pasti tambah banyak. Dunia akan semakin sempit dan padat. Sekarang saja ketika banyak orang yang ngejomblo, dunia sudah penuh sesak begini. Sawah dan hutan banyak yang di gusur untuk dijadikan pemukiman manusia. Tidak heran program Keluarga Berencana terus digalakkan.
Efek dominonya banyak. Salah satunya, orang tua yang tak terurus atau merasa kesepian akan semakin banyak. Habis semua anaknya punya pasangannya, punya dunianya sendiri. Biasanya yang telaten ngurusin atau nemenin ortu kesana kemari kan para jomblo. Anak-anaknya yang sudah menikah atau punya pacar kerap mana sempat?!.
Jadi, bolehlah dikatakan jomblowan-jomblowati itu sebagai penyeimbang populasi manusia. Hidup Jomblo! Hahaha.
Terus, romantika cinta juga akan menjadi hambar. Tidak ada rebutan cinta. Tidak ada cinta segi tiga atau segi empat. Tidak ada hati yang merana karena putus cinta, atau hati yang membara karena ketiban cinta. Hubungan cinta antara cewek dan cowok berjalan lurus-lurus saja. Tanpa greget. Tanpa seni. Hambar banget bro 'n sista.
Akibat kreativitas seni manusia akan terhambat. Buku-buku tentang cinta, film cinta, lagu cinta, puisi cinta, lukisan cinta, semua karya seni tentang cinta akan hilang. Yang lebih tragis lagi, artikel ini tidak akan laku untuk dicari dan dibaca orang. Hehehe.
Efek dominonya, banyak pekerja seni seputar cinta, pencipta dan penyanyi lagu cinta, pembuat dan pemain film cinta, penulis dan penerbit buku cinta, pelukis cinta akan gulung tikar atau benating stir menjadi tukang ojek haha. Oh iya, biro-biro jodoh juga bakala tutup. Rubrik kontak jodoh di koran dan majalah akan hilang. Bertambah dah angka pengangguran.
Jadi, blehlah juga dikatakan bahwa jomblowan-jomblowati itu sebagai salah satu sumber inspirasi bagi para seniman cinta.
Itu berarti, ngejomblo atau tidak ngejomblo (punya pasanga; suami, istri, atau pacar) sama-sama perlunya, sama-sama pentingnya. Jadi, biro jodoh sama pentingnya dengan biro jomblo. Kiat, bagaimana mencari pasangan hidup, sama perlunya dengan kiat, bagaimana ngejomblo dengan nikmat dan sehat.
Maka, untuk para jomblo, banggalah dengan kejombloan kalian. Jangan malah minder. Atau merasa sebagai makhluk asing. Keberadaan kalian di dunia ini tidak kurang bernilainya koq, dibanding dengan mereka yang punya pasangan. Dunia ini tidak bakal menjadi dunia seperti sekarang ini tanpa kalian. Sungguh!
Dan, untuk yang bukan jomblo, jangan sinis atau berpradugaburuk dong dengan para jomblo. Justru kalian harus menghargaimereka, mendukung mereka. Kalau perlu beri mereka award atau bintang jasa. Misalnya jomblo 10 tahun dapat bintang satu. Jomblo 25 tahun dapat bintang tiga. Jomblo 40 tahun bintang tujuh (heleh jadi kayaq puyer obat sakit kepala hahaha :). Dan seterusnya.
Apalagi ngejomblo dengan tenang itu tidak gampang loh. Sebab, jujur sajalah, bahwa masih ada pandangan tidak adil, pendapat miring, praduga buruk terhadap para jomblo. Seakan ngejomblo itu di luar jalan yang Tuhan sediakan untuk manusia. Padahal kan tidak begitu.
Lalu kerap mereka didesak, dirayu, digoda, diprovokasi, diteror untuk memilih pasangan. Entah itu oleh orang tua, sanak saudara, teman, atau tetangga. Dan kalau mereka tetap ngejomblo, mereka lantas di pandang aneh. Segala gerak-geriknya di curigai, setiap kata-katanya disalah tafsirkan.
Sungguh tidak adil. Mudah-mudahan kita bukan termasuk orang yang ikut arus dalam ketidakadilan tersebut. Apalgi turut pula menyuburkan dan melanggengkannya. Semoga. By Ayub Yahya.

Sekian sobat, semoga artikel tentang jomblo ini bisa memberi spirit para jomblower untuk tetap menjomblo?  Yakin? :D.. "Happy Blogging"

Tujuh Kebiasaan Jomblo yang Tidak Efektif

|
Emang, sadar atau tidak, kita kerap di bikin repot dan susah oleh ulah kita sendiri. Sikap, tindakan dan cara kita berpikirlah yang kerap membuat yang sederhana jadi rumit : yang bukan masalah jadi masalah dan yang sudah jadi masalah tambah jadi masalah.

Tujuh Kebiasaan Jomblo yang Tidak Efektif
Tujuh Kebiasaan Jomblo Yang Tidak Efektif

Negatif Thinking
Misalnya kita lagi jalan sendiri lalu ada yang nanya, "koq sendiri?" Kita langsung bereaksi "sudah tahu pakai nanya-nanya. Mentang-mentang saya jomblo. Ngejek, ya." Atau, kita melihat ada orang yang orang lain yang melihat kita. Reaksi kita pun "Kenapa sih lihat-lihat?! Aneh ya, saya jomblo. Dasar, tamblo luh". (Tamblo=Tampang Bloon).
Padahal "Koq sendiri?" itu kan pertanyaan setandar orang yang ingin bertanya tapi tidak tahu mau tanya apa. Alias just basa-basi. Tidak punya maksud apa-apa. Malah kalau tanyanya "Koq berdua?" atau "Sama siapa?" jadi aneh bin konyol. Lah sudah jelas "sendiri" pakai tanya "Koq berdua?" atau "Sama siapa?" segala.
Orang yang melihat kita juga, bisa karena rasa-rasanya koq seperti kenal gitu. Atau bisa juga karena melihat tahi lalat yang nempel di pipi kita. Dipikirnya, "Hoki benar tuh orang ada tahi lalat di pipinya. Coba kalau tahi kebo atau tahi burung, kan jelek!" Tidak ada kaitannya dengan kejombloan kita.
Kalau sudah dikuasai oleh pikiran negatif, segala sesuatu akan disikapi secara negatif. Ibarat kacamata hitam, semua yang dilihatnya menjadi serba hitam.

Citra Diri yang Negatif
Tidak bisa menghargai diri sendiri. Selalu merasa kurang, jelek, goblok, tidak berguna, minus dan lain-lain.
"Siapalah saya ini. Sudahj tampang pas-pasan. Tidak kaya. Tidak pintar. Tidak bisa apa-apa. Pokoknya tidak ada yang bisa dibanggakanlah. Mana ada yang mau. Andai pun saya jadi orang lain, tidak bakalan saya mau sama orang kayak saya begini. Nyusahin diri sendiri saja".
Padahal masa sih Tuhan menciptakan kita kalau kita ini segitu buruknya. Tidak ada kebaikannya sama sekali. Jelek melulu. Kitab suci sudah jelas bilang, kalau di mata Tuhan kita ini makhluk yang sangat berharga dan sama, hanya amal ibadah kita yang membedakan. Kita adalah ciptaan Tuhan yang "sungguh amat sempurna". Jadi kalau kita tidak bisa menghargai diri sendiri, itu berarti kita juga tidak menghargai Tuhan sebagai pencipta kita.
Dan pula hati-hati loh, gambaran kita tentang diri sendiri sangat besar pengaruhnya terhadap pikiran, perasaan, dan tindakan kita. Ibarat makanan yang kita makan menentukan sehat tidaknya tubuh kita, citra diri kita juga sangat menentukan apakah kita akan menjadi pribadi yang optimistis atau pesimistis, percaya diri atau rendah diri, punya vitalitas hidup atau loyo alias tidak punya semangat hidup.

Rumput di Halaman RUmah Tetangga Kelihatan Lebih Hijau
"Duh enak benar punya pacar kayak dia. Kemana-mana ada yang nemenin. Ada yang perhatiin and diperhatiin. Ada shoulder to cry on. Malam minggu tidak melongo sendiri di rumah. Lonely. Bisa merasakan dag dig dug serrr tiap nunggu si dia. Kapan pun dan di mana pun ada yang selalu bisa di call. Pokoknya asyik deh."
Jadi anggapannya hidup orang lain itu lebih enak, lebih baik, lebih nikmat, lebih segalanya. Lalu berandai-andai : seandainya hidup kita kayak hidup dia, dunia kita kayak dunia dia. Kita jadi kurang bersyukur dengan hidup kita sendiri.
Padahal mana ada sih orang yang hidupnya selalu senang. Seperti kata pepatah (bikinan saya sendiri), setiap orang tuh punya pikulan sendiri. Artinya, siapa pun pasti punya senang dan susahnya sendiri. Punya pacar tidak selalu enak koq. Pasti ada sebelnya. Kadang bisa bikin jengkel and stress juga. Sumpah masa tidak percaya?! (saya yakin yang punya blog ini juga pernah merasakannya hahaha).
So, jangan heran kalau yang sudah punya pacar pun bisa mikir kayak gini : "Duh enak benar ngejomblo. Bebas sebebas burung terbang di udara. Asyik seasyik ikan berenang di laut. Nikmat senikmat ayam goreng istri saya di Quick Chicken, apalagi sambal bajaknya pak Didin pengantin baru itu loh, wuidiiiih uenak poll deh." (wadoh apa hubungannya hihi).

Berselubung Topeng
Tidak jujur dengan diri sendiri. Tidak terbuka. Tidak apa adanya.
"Aku tidak kepengen pacaran. Hanya buang-buang waktu. Aku happy koq sendiri. Suer. Yang sebenarnya aku belum ketemu yang oke. Maksudnya dia oke, saya juga oke gitu.
Padahal apa salahnya bilang "Aku bukannya tidak ingin, tapi belum ketemu yang pas aja". Kalau bilangnya tidak ingin pacaran hanya akan buang-buang waktu, happy hidup sendiri, lalu ternyata besok atau lusa sudah ketemu yang oke, kan jadi malu sendiri tuh mesti menjilat ludah sendiri.
Atau, "Hahh saya naksir dia?! Idiihh, amit-amit deh. Fitnah keji dari mana itu?! Sorry aja ya, dibayar cepek pun tidak bakalan saya ambil!". Yang sebenarnya, Aku sih okelah sama dia. Tapi lah gimana, dianya cuek banget. Masak saya perlu nyodor-nyodorin diri. Emoh ah.
Padahal apa salahnya bilang, "Dia cuek begitu, mana berani saya". Kalau bilangnya, Amit-amit, dibayar cepek pun saya tidak bakalan ambil dan ternyata dia itu sebenarnya naksir sama kita, cuma dianya pemalu banget jadi pasang sikap cuek bebek. Sok jaim alias jaga image. Baru tahu rasa ente.
So, tinggalkan topeng itu. Apa adanya saja lah. Minimal jujur pada diri sendiri. Toh naksir, senang atau kagum sama seseorang itu wajar koq. Bukan aib. Bukan dosa. Asal jangan vulgar. Jangan ngobral. Jangan norak. Jujur dengan elegan. Atau, jujur sekaligus bijak gitulah.

Larut Terbawa Perasaan (Baper)
Merasa kasihan dengan diri sendiri. Nelangsa. Seakan dengan ke-jomblo-an itu kita menjadi orang yang paling malang di dunia. Hidup kita terasa gelap pekat. Bagai orang yang tergelincir ke dalam terowongan 3000 meter di bawah permukaan laut. Tak seberkas cahaya pun di sana. Dan tak berujung pula. Wahhaha.
Kalau main gitar, lagu yang di dendangkan tak -jauh-jauh dari lagu Chrisye : Di malam yang sunyi ini aku sendiri, tiada yang menemani... hiks. Atau lagu Koes Plus : Hidupku selalu sepi, menjerit dalam hatiku... hiks. Orang-orang pun jadi miris alias masgul alias garuk-garuk kepala tidak gatal mendengarnya.
Yah, no comment deh. Orang yang lagi nelangsa begitu biasanya emosinya juga labil. Tidak bisa diajak rasional. Kita ngomong segi tiga, dia bisa nangkap segi empat. Salah ngerti malah jadi runyam. Tambah masalah. Lagian, dia juga mungkin memang tidak butuh nasihat. Yang lebih dia butuhkan adalah empati dan simpati.
Kalau pun ada kalimat yang bisa kita ucapkan buat menghiburnya, paling ini "You'll never walk alone, Jomblo!!!" (ngutip lagu kebangsaannya kesebelasan liverpoll dari inggris). Kan yang jomblo bukan cuma dia. Banyak. Jadi, pastilah ada teman gitu, hehe :).

Memaksakan Kehendak
Tiga grade pemaksaan dalam perjombloan :
  • Grade 1, agak maksa : "Hai, cowok godain kita dong!" Itu kalau cewek. Kalau cowok, " Hai cewek, kita godain ya!" (kalau tiak digodain atau ngegodain tuh, gatel deh).
  • Grade 2, maksa : "Pokoknya saya mesti dapetin dia. Saya harus jadian sama dia. Biar pun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang". (Lalu buatlah skenarionya : Bayar preman buat gangguin dia, lalu dengan gaya bruce li lengkap dengan "ciattt-nya" yang khas datang menyelamatkan dia).
  • Grade 3, sangat maksa : "Aku tidak bisa hidup tanpa dia. Tidak bisa. Saya lebih baik mati saja kalau tidak bisa kawin sama dia. Mati saja!" (Dan dalam hati : nasib saya koq jelek banget. Salah apa bunda mengandung?! Saya mau kembali ke dalam rahim bunda saja! Tapi segede gitu, bagaimana masukinnya ya??!).
Padahal segala sesuatu itu tidak bisa di paksakan apalgi soal jodoh, pasti akan lebih banyak buruknya dari pada baiknya. Usaha tentunya tidak salah, punya keinginan monggo silahkan. Tapi kita perlu mengiringinya dengan penyerahan diri kepada sang khalik (tawakal)  : "Bukan kehendakku yang jadi, melainkan kehendak-Mu!".
Dengan berusaha dan berserah (juga tentunya berdoa), hidup akan terasa lebih ringan. Keriki-kerikil di jalaj tidak akan mengganggu langkah hidup kita. Tuhan lebih tahu dan lebih mengerti apa yang terbaik buat kita koq. Percaya deh.

Sirik
Orang Manado bilang mangiri. Alias iri dengki. Tidak senang melihat orang lain senang. Senangnya menjelek-jelekkan dan ngecil-ngecilin kebaikan orang lain.
"Alaaa, dia sih piala bergilir. Lihat saja, bentar lagi juga dia akan pindah ke pelukan cowok lain. Saya sih amit-amit dapatin dia!".
"Eh kamu tahu tidak, dia itu kan bekas pacarnya teman saudara teman saya. Nah, kata teman saya, teman saya dari saudaranya, saudaranya dari temannya yang mantan dia itu, dia pernah terlibat narkoba tuh. Pernah di gerebek polisi segala. Orang tuanya sampai jual rumahnya untuk bebaskan dia dari penjara".
Padahal ke-sirik-an hanya akan membuat kita makin buruk di mata orang lain. Dan pastilah di mata Tuahn juga. Alias tidak ada faedahnya.
Lihat deh wajah Siti Sirik di majalah Bobo, jelek kan?! Pasti bukan tanpa sengaja si pencipta komik itu menggambarkan wajah Siti Sirik jelek begitu. Hidung panjang, Dagu panjang. Keriput di sana-sini. Mata gede melotot. Hih seram.. By Ayub Yahya


Asyiknya NgeJomblo

|
Yang penting bukan setatusnya : jomblo atau bukan, tapi bagaimana cara kita melihat dan menyikapinya. Sungguh, sesuatu itu bisa jadi "berkat" atau "kutukan" kadang tergantung kita menyikapinya juga koq.

Siapa bilang ngejomblo itu tidak bisa asyik. Bisa, kalau mau. Syaratnya sederhana koq : buang keluh kesah, berhenti meratap. Lihat ke-jomblo-an sebagai peluang, bukan hambatan (kayak dibisnis aja). Dan terima sebagai anugerah, bukan kutukan. Lalu bersyukurlah. Apa pun keadaan kita, akan terasa lebih "nikmat" kalau dijalani dengan syukur. Banget loh.
Simak deh "pengakuan" Wati sebutlah begitu. Semasa kuliah di Jogja ia pernah pacaran. Tapi bubar di tengah jalan. Tidak jelas kenapa. Sekarang ia sudah bekerja di Jakarta. Dan belum pernah pacaran lagi. Bukannya tidak mau, tapi memang belum ketemu yang cocok aja.
"Saya sih enjoy-enjoy aja dengan kesendirian saya. Saya bisa lebih konsen dengan aktivitas saya. Saya bisa ikut macam-macam kursus. Saya juga lebih leluasa berwisata ke mana saja. Hampir semua tempat bagus di Jawa pernah saya kunjungi. Di luar Jawa seperti Bali, Toraja, Manado. Saya ingin keliling Indonesia.
Kalau lagi dirumah, saya bisa baca buku sepuas yang saya mau, nyetel DVD kesukaan saya, nonton tv, main internet, saya banyak daftar medsos, main twitter, facebook, dan punya beberapa sahabat chatting. Pokoknya asyik-asyik deh. Kebetulan saya tinggal serumah cuma berdua dengan adik saya yang sama-sama jomblo. Orang tua tinggal di Kudus. Kita sudah bisa ngurus diri sendiri-sendiri."
Emang mau ngejomblo terus? (Tanya saya)
"Ya, kalau itu emang keendak yang Ilahi. Prinsipnya sih saya tetap membuka diri. Tapi saya kan tidak bisa main sruduk-sruduk. Saya tidak mau terus sembarangan. Toh kalau pun saya harus terus ngejomblo sepanjang hayat dikandung badan, saya tidak susah hati. Saya tetap enjoy with my life koq."

Atau cerita Mawar nama samaran. Cewek kuliahan semester empat di salah satu universitas swasta di Bandung. Ia indekost. Sedang orang tuanya di Jakarta. Percaya tidak percaya sampai seusianya itu ia belum pernah pacaran. Padahal kalau mau, ia gampang dapat pacar. Tampang oke. Anak pengusaha sukses. Pinter nyanyi. Kurang apa coba?! Hebatnya kalau mau di bilang begitu ia asyik-asyik aja gitu.
Tidak pernah nyeselin diri tidak punya pacar? (Tanya saya)
"Emang asyik sih. Kita bisa punya teman se-gank yang dekat banget. Lebih dari saudara. Pergi ke mana-mana bareng. Kalau lagi tidak ada kuliah bisa saling nginep di tempat koast, ngerumpi,main kartu, atau catur. Kalau liburan, traveling kemana saja kita suka. Kita punya tabungan bersama loh. Kita juga aktif di organisasi kampus, di yayasan sosial macam LSM yang ngurusin anak jalanan dan tentu di panti."
Tidak pernah kepikiran punya pacar? (Tanya saya).
"Kepikiran sih, pernahlah. Namanya juga manusia normal. Tapi tidak sampai gimana gitu. Ya sebatas naksir, tidak sampai jadian. Kalau jadian nanti malah repot. Bisa ngerusak keseimbangan yang ada, hehehe. Maybe someday lah. Kalau saya udah karatan baru deh mikirin pacaran. Sekarang sih selagi jomblo, saya ingin nikmatin and menggunakan waktu saya sebaik-baiknya."

Simak juga kesaksian Doni nama bohongan. Kalau Wati dan Mawar cewek, Doni cowok. Asli. Lulusan sekoah komputer di Jakarta. Hobi musik, jago main piano dan gitar. Sekarang tinggal di Singapura. Dapat beasiswa untuk memperdalam musik. Semasa awal-awal SMU ia pernah pacaran. Tapi tidak lanjut.
"Biasalah, cinta monyet," katanya.
Terus waktu kuliah tingkat akhir, ia pacaran pula. Kalau sebelumnya sebatas cinta monyet, sedang yang ini sudah cinta gorila kali. Tapi putus lagi. Sejak itu, ia ngejomblo. Sampai sekarang.
"Ngejomblo itu ternyata ada asyiknya," begitu ia bilang. "Saya lebih bebas. Tidak ada kewajiban ngapel. Mau jalan sama siapa, kemana, berapa lama, tidak perlu exit permit. Saya bisa lebih konsen menekuni hobi dan aktivitas saya. Tidak di ganggu dengan segala macam perasaan yang bisa bikin pusing tujuh keliling seperti entah itu cemburu, angen atau kuatir kalau-kalau dia selingkuh atau kenapa-kenapa.
Cinta itu kan berwajah ganda. Di satu sisi menyimpan kebahagiaan, tapi di sisi lain menyimpan penderitaan. Madu dan racun bersatu padu dalam cinta. Jadi kalau tidak siap menderita, ya jangan jatuh cinta. Jomblo terus. Sampai nanti tiba di batas kota (ngutip lagu hihi).
Tidak pernah ngerasa lonely? (Tanya saya)
"Ya, Pernah lah. Misalnya waktu saya kepengen banget ngobrol, eh teman-teman pada sibuk. Atau kalau saya lagi dapat kabar gembira seperti ketika apply saya untuk dapat beasiswa sekolah musik di Singapura diterima, wah, senangnya bukan main. Pengen berbagi kegembiraan tapi berbagi sama siapa. Jadinya teras sepi, Lonely. Tapi ya, cuma sebataas itu. Bersama waktu, sepi itu hilang dengan sendirinya."

Begitulah sekelumit kisah tentang orang-orang yang asyik ngejomblo.
"Koq yang disajikan yang happy-happy melulu sih? Kan ada tuh yang merana karena ngejomblo berkepanjangan," begitu mungkin kamu protes.
Ya, memang. Tapi yang mau dikemukakan dalam tulisan ini pun cuma: Bahwa ngejomblo kalau kita sikapi secara positif dan kreatif bisa asyik juga. Makanya yang disajikan ya yang asyik-asyik dong. Hitung-hitung saja untuk memasyarakatkan jomblo dan menjomblokan masyarakat haha :). By Ayub Yahya

Asyiknya Ngejomblo
Asyiknya Ngejomblo

Sekian.. Semoga tulisan orang ini bisa sangat bermanfaat untuk para jomblower. "Happy Blogging"

Banyak Jalan Menuju Jomblo

|
"Apa yang terjadi dalam hidup ini tidak selalu bisa kita mngerti. Otak kita terlalu terbatas untuk mengungkap kompleksitas hidup. Termasuk, misalnya, kenapa "doi" begitu gampang mendapatkan pasangan sedang "dia" koq begitu sulit alias jomblo teruss. Kadang emang tidak selalu bisa dijelaskan dengan akal. Maka dalam menjalani cerah suram kehidupan kuncinya sebetulnya ini : berdoa, berusaha dan berserah diri."

Banyak Jalan Menuju Jomblo - Ada banyak alasan kenapa orang nge-jomblo. Ada yang karena memang sudah pilihan. Jadi kesempatan sih ada kesiapan mental, spiritual dan material juga oke. Cuma ya, tidak mau aja. No way lah.

Jomblo
Jomblo

Nah, tidak maunya itu bisa jadi karena ingin konsen dengan studi atau karier. Tidak mau diganggu segala urusan tetek (bukan yang itu ya) dan bengek (bukan saudaranya asma). Bisa karena ingin total mengabdi panggilan hidup. Misalnya ngurusin anak jalanan, atau ke daerah terpencil dan melayani suku terasing di sana.
Atau, bisa juga karena ingin setia menanti cinta "sang tambatan hati". Biar pun doi sudah punya pasangan alias tidak sendiri lagi. Prinsipnya, sebelum "janur kuning melengkung" (merid maksudnya) penantian jalan terus. Bahkan, andaikan pun nanti sang janur akhirnya melengkung juga ya "kutunggu jandamu!" (kalau cewek, ya "kutunggu dudamu"). Pokoknya seperti lagunya Meriam Bellina : ku tutup pintu hati untuk semua cinta walau batin ini menjerit... hiks! Lah habis gimana, sudah cinta setengah mati setengah hidup sama dia. Tidak bisa pindah ke lain hati.
Apa pun alasan orang memilih ngejomblo, kita perlu menghargainya. Jangan malah sinis atau curiga yang tidak-tidak. Ngejomblo atau tidak, toh itu hak asasi setiap orang. Hak asasi berarti hak yang diberikan Tuhan kepada manusia dari sejak lahir. Sama seperti hak untuk hidup, hak untuk diperlakukan secara adil dan beradab atau hak untuk dicintai dan mencintai.
Ada juga yang memilih ngejomblo karena trauma. Misalnya dulu pernah pacaran. Sayang banget sama doi, sampai-sampai segalanya sudah diberikan. Tapi, eh, dikhianati. Doi ternyata punya kekasih lain. Sakit sekali. Nyeriya ke sumsum tulang. Serasa digigit seribu ekor lebah. Padahal satu gigitan saja sudah sangat sakit banget auh auh.
Atau, trauma karena melihat ortu berantem melulu. Tidak siang tidak malam. Tidak panas tidak Hujan. Mana berantemnya tidak kira-kira, pakai piring terbang, panci terbang, gelas terbang (saling melempar gitu hehe). Ditambah lagi makian kebun binatang. Sudah gitu melihat teman yang sudah berumah tangga, sami mawon. Berantakkan. Malah sampai cerai. Jadinya takut. Dari pada sengsara, mendingan ngejomblo. Bisa bebas sebebas burung di udara.
Kita harus simpatik dengan orang-orang seperti itu. Hidup dengan trauma itu tidak enak loh. Mereka adalah korban sesamanya, korban lingkungan, atau bahkan korban dirinya sendiri. Jadi, ya tolonglah mereka. Minimal jadilah teman buat mereka. Jangan sampai sikap dan kata-kata kita malah tambah melukai.

Ada juga yang ngjomblo bukan karena pilihan, tapi lebih karena keadaan dan kesempatan yang belum klop. Ibarat mur belum ketemu bautnya, atau pelecing kangkung belum ketemu kerupuknya (haha...malah jadi laper). Jadi, keinginan sih ada. Bahkan besar sekali. Cuma belum ketemu yang pas.
Nah, belum ketemu yang pas itu bisa karena standar yang terlalu tinggi setinggi awan yang melayang ke angkasa. Kebanyakn milih. Mikirnya tuh seperti orang yang mau naik bis. Yang itu kotor, malas ah. Yang ini tidak ada AC nya, ogah ah panas. Sing iku sopire ora meyakinkan, emoh ah. Ah Uh Ah Uh terus, jadinya tidak naik-naik. Tetap mangap diterminal seperti patung mayura samping gapura (haha..).
Maunya yang perfect. Cakep (kalau cewek kayak istri saya, kalau cowok kayak saya sendiri hahaha), kaya raya (kayak bill gates), pintar (kayak albert einstein), baik hati, rajin mengaji, rajin menabung dan tidak sombong serta enak diajak ngobrol (kayak saya lagi hehe). Maaf ya berjanda eh bercanda, habis susah banget nyari contohnya. Pokonya yang ideal banget. Ya tidak nemu-nemu. Jadinya ya jomblo terus.
Bisa juga karena kurang berusaha. Lah, gimana bisa ketemu yang pas kalau terus mengurung diri di penjara, eh kamar ding. Tidak mau menggauli, eh salah lagi maksud saya bergaul. Berharap doi datang sendiri ke rumah, tuk tak tuk tak datang bawa bunga mawar berwarna pelangi (atau sebendel uang) dan bilang "Hai ini aku, Goadin aku dong!".
Ya ampun! astaga naga! waw! Brota and Sista, jodoh itu tidak turun dari langit. Usaha itu harus ada aturan-aturannya. Minimal cari peluang dong. Buka diri supaya mengenal dan dikenal orang lain sebanyak mungkin.
Caranya? Ya, bergaullah. Ikuti aktivitas muda-mudi di komunitas tertentu. Gabung dengan klub pecinta alam, klub medsos, atau klub apalah pokoknya yang baik. Kalau perlu jadi anggota power ranger hihi maaf bercanda. Sudah jadi hukum alam, makin banyak dikenal dan mengenal orang lain, makin besar kemungkinan ketemu yang pas.

Tetapi bisa juga tidak ketemu yang pas ini karena "faktor X". Alias blank. Tidak tahu kenapa. Padahal, modal cukup tampang tidak jelek-jelek amat, karier lumayan, jiwa raga sehat tidak ada gangguan serius. Doa dan usaha juga sudah lebih dari cukup. Tuntutan standar tidak macam-macam, pokoknya yang penting seiman, akhlak, sehat jiwa raga dan tentu saja harus lawan jenis  Cuma itu. Tetapi eh, kok ya tetap saja jomblo. Heran!.
Ya, begitulah hidup. Tidak semua hal bisa dijelaskan dengan logika. Otak kita terlalu terbatas untuk mengungkap semua realitas. Ada banyak hal dalam hidup ini yang hanya bisa kita terima tanpa reserve, jalani tanpa syarat. Itulah misteri. Misalnya, kenapa kita lahir disini, seperti ini dan dari orang tua begini? Tidak tahu. Kita hanya bisa menerimanya.
Jomblo juga terkadang begitu. Tidak selalu bisa dijelaskan dengan logis atau masuk akal. Kenapa samapi ngejomblo? pokoknay entahlah.
Lalu gimana dong?!
Kalau suatu keadaan itu tidak dapat kita ubah, jalan terbaik dan sehat pula ya, kita terima sajalah. Jalani dengan legowo. Toh menyalahkan diri sendiri, uring-uringan, marah-marah menyesali habis-habisan tidak ada gunanya. Selain akan menambah masalah.
Paling enak hidup itu mengalir sajalah. Apa yang harus kita lakukan, lakukan yang terbaik, semampu kita bukan semau kiita. Soal hasilnya gimana, kita serah kepada sang Khalik. Yang penting kita sudah do the best. Melawan arus hanya akan menimbulkan riak-riak gelombang. Kita akan capek sendiri nantinya . Buang-buang energi. So go with the flow, jomblo!. By. aYub yahya

Sekian dulu sobat, semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk para jomblo. Cekidot... "Happy Blogging".

Bila Jomblo Tak Terelakkan

|
Jomblo - Kalau kita bisa mengubah sesuatu yang ingin kita ubah, ubahlah. Tapi kalau kita tidak bisa mengubahnya, cara terbaik : Terimalah dengan lapang dada. Termasuk dalam hal jomblo. Kalau itu memang bagian yang Tuhan sediakan untuk kita, DIA pasti akan memperlengkapi kita untuk menjalaninya. Tidak mungkin kan Tuhan mengizinkan sesuatu terjadi kalau itu buruk buat kita.
Kerap kita tidak bisa mengelak dari keadaan yang tidak kita inginkan. Tapi kita tetap bisa memilih sikap atau tindakan apa yang akan kita ambil, sebagai reaksi terhadap keadaan itu. Nah, bagaimana reaksi kita akan sangat menentukan keadaan itu selanjutnya, akan menjadi baik atau malah (lebih) buruk.
Misalnya, sakit. Sekeras apa pun kita menjaga kesehatan seperti minum vitamin, makan teratur, tidur secukupnya, olahraga rutin, tapi eh ada saja saatnya kita sakit. Iya kan? Entah itu sakit ringan, entah sakit berat. Kita tidak bisa mengelak. Tetapi kita bisa memilih sikap atau tindakan seperti apa sebagai reaksi kita terhadap sakit itu.

Bila Jomblo Tak Terelakkan
Bila Jomblo Tak Terelakkan
Kita bisa terus ngedumel, menyesali habis-habisan marah-marah, semprot sana semprot sini. Pokoknya tidak terima. Akibatnya ya, kita bisa stress sendiri. Tambah pusing tujuh keliling. Orang lain juga mungkin akan menjadi jengkel dengan kita. Lah, emang enak dekat-dekat orang yang terus ngeluh dan uring-uringan?! Penyakit tidak bisa sembuh, malah timbul masalah baru.
Atau, kita bersikap tenang. Kita beerserah diri kepada Tuhan. Kita percaya di balik segala hal yang Tuhan izinkan terjadi, pasti ada hikmahnya. Dengan bersikap begitu, bisa saja penyakit kita tidak lantas sembuh, tapi minimal kita tidak jdadi stress. Tidak tambah pusing tujuh keliling. Kita tetap bisa bersyukur, menikmati hari-hari dengan gembira. Relasi kita dengan orang lain juga tidak terganggu.
Ngejomblo juga begitu. Bisa saja kita tidak bisa mengelakdari setatus jomblo. Kita sudah berdoa, sampai lidah kita terasa kelu memohon kepada Tuhan. Kita juga sudah berusaha begitu keras. Hingga ibarat hati kita sebuah rumah, pintunya sudah kita buka lebar-lebar, jendelanya sudah kita pentangkan, bahkan atapnya sudah kita bongkar habis. Sudah plong blong. Tetapi koq ya sang pangeran berkuda atau sang putri bercadar putih yang kita harapkan itu tak juga kunjung datang. Angin yang berhembus hanya membawa sepi. Hiks.
Lalu gimana dong?!
Selanjutnya ya, tergantung kita. Kalau kita melihat ke-jomblo-an itu sebagai aib, sebagai sesuatu yang memalukan dan menyedihkan, kita bisa terus tenggelam dalam kekecewaan dan kekesalan. Rasanya Tuhan tidak adil. Hidup pun terasa tidak enak. Sepi. Getir. Sengsara. Kita jadi murung. Hidup segan, mati tak mau.
Efeknya, kalau misalnya kita lagi pergi-pergi ke mall atau pesta ulang tahun teman, lalu ada yang tanya, "Koq sendirian?!" kita artikan sebagai sindiran. Kita pun marah. Murung. Padahal orang cuma tanya, tidak ada maksud apa-apa. Yang celaka, kalau kemudian kita banting harga . Ngobral. pokoknya siapa saja yang nyamperin kita oke-in tanpa kita pikir-pikir dahulu.
Mending kalau kitadapat orang yang tepat. Lah, kalau tidak?! Apa tidak sedang membangun neraka buat diri sendiri tuh. Nyeselnya bisa seumur hidup loh. Serammm. Relasi khusus antara pria dan wanita terutama kalau kita itu mengarah ke jenjang pernikahan tidak bisa dibangun di atas dasar ketergesaan dan keterpaksaan, apalagi asal-asalan. Sungguh.
Tetapi kalau kita melihat ke-jomblo-an itu secara positif sebagai bagian dari rencana Tuhan atas hidup kita. Percaya dah, ke-jomblo-an itu tidak akan menjadi beban yang menakutkan. Kita bisa tetap enjoy dengan "kesendirian" kita. Happy dengan hari-hari kita. Pikiran kita pun akan lebih terbuka melihat sisi-sisi baiknya nge-jomblo, bahwa ngejomblo tidak melulu berarti "kisah sedih di hari minggu" (ups..malah jadi kayaq lagu hehe). Dan yang paling penting, kita tetap dapat membuka diri tanpa mesti "mengobral" diri. Pokoknya so good-lah.
Bisa saja sih sesekali kita juga merasa lonely. Atau kepikiran enaknya kalau ada yang ngapelin atau diapelin, ada yang perhatiin dan diperhatiin, ada yang nyayangin dan disayangin. Tapi perasaan dan pikiran semacam itu tidak akan membuat kita lantas jadi nelangsa. Apalagi kalau sampai mengutuk "malam dimana kita dikandung bunda". Pasti tidaklah.
Paling kita bernyanyi sendu. Bisa lagu pop nya almarhumah Nike Ardila "Jenuh aku mendengar manisnya kata cinta lebih baik ku jomblo. Bukan nya sekali, sering ku mencoba, namun ku gagal lagi... hiks. Hanya iman di dada yang membuat ku mampu selalu tabah menjalani ... yeah!."
Bisa juga lagu rohani. Macam "Kekuatan serta Penghiburan", "Jalan Hidup Tak Selalu", "Hanya DIA-lah Yang Tahu", atau "Nearer, My God, to Thee" (Itu loh lagu yang mengiringi tenggelamnya kapal titanic haha).
So, jangan kecil hati kalau kita ngejomblo. Apalagi patah arang, patah hati, sampai kita juga kepengen patah leher segala. Jangan ya sob. Manusia berpikiran kerdil itu namanya. Dunia jomblo pun tak kalah indahnya kok. Asal kita tidak melihat dan menyikapinya secara negatif. Percaya deh. By Ayub Yahya
Sekian Artikel tentang Bila Jomblo Tak Terelakkan, Semoga bisa bermanfaat. "Happy Blogging"

Dari Mana Datangnya “Jomblo“ ?

|
Ngejomblo atau nggak ngejomblo sama-sama ada plus minusnya. Maksudnya, keduanya sama-sama “menuntut harga”. So, yang penting kalau kita ngejomblo, ngejomblolah dengan elegan; dan kalau kita punya pasangan hidup, punyailah pasangan hidup dengan elegan pula. Itu saja.


Dari Mana Datangnya Jomblo?
Selamat Datang Jomblo

Konon, menurut Kamus Besar Indonesia sehari-hari. Pada mulanya adalah “jomlo” tidak pakai “b”. Jomlo artinya perempuan tua. Lalu entah mengapa, terjadilah metamorfosa dari “jomlo” ke “ jomblo” pakai “b”. Yang artinya bukan lagi perempuan tua, tapi orang bias cewek bias cowok yang tidak atau belum pasangan hidup walau sudah cukup umur. Masih “mesakne bae” kata orang Sasak.
Ada jomblo abadi, ada jomblo semusim. Jomblo abadi, tidak punya pasangan hidup selamanya atau tidak menikah sampai akhir hayat dikandung badan. Sedangkan jomblo semusim, Cuma untuk sementara waktu saja ia “mesakne bae”, suatu saat bias saja ia dapat jodoh dan menikah.
Metamorfosa itu rupanya bukan hanya terjadi pada istilah dari “jomlo” ke “jomblo”, tapi juga pada apresiasi atau penerimaan terhadap status jomblo. Dulu jomblo apalagi kalau itu perempuan dianggap sebagai status yang “aneh” dan “memalukan”, karenanya kalau bias disembunyikan. Dari situasi inilah muncul ungkapan bernada ngece (ngejek) “perawan tua” dan “perjaka ting-tong”.
Sekarang jomblo nggak lagi dianggap “seaneh” dan “sememalukan” dulu. Ya, ada juga sih orang yang masih memandang kejombloan itu secara negatif dengan curiga dan sinis. Tapi kebanyakan orang relatif lebih bias menerima kehadiran para jomblo. Bias jadi ini sebagai salah satu dampak modernisasi. Orang makin maju, makin pintar, makin sibuk, makin pula nggak mau repot-repot mikirin pasangan hidup.
Bias juga karena perbedaan jumlah antara cewek dan cowok sudah sedemikian lebar selebar jurang pemisah antara si kaya dan si miskin di negeri ini. Mungkin satu berbanding tiga atau bahkan empat. Jadi makin banyak orang yang ngejomblo. Orang pun jadi biasa pula gitu.
Bahkan ada pula loh yang bangga dengan kejombloannya. Dari mereka yang bangga-bangga itulah muncul istilah “jojoba” (Jomblo-jomblo Bahagia), Ijo Lumut (Ikatan Jomblo Lucu dan Imut), Kejora (Kelompok Jomblo Ceria), juga Joker’s (Jomblo Keren nan Sukses).
Malah di televisi kemarin-kemarin pernah ada kan penghargaan untuk jomblo paling ceria atau jomblo paling apa gitu. Yaitu mereka yang sudah cukup umur dan belum punya pasangan hidup, tapi hidupnya enjoy-enjoy aja dan tetap produktif.
Yang terpenting kan bukan statusnya ngejomblo atau punya pasangan hidup. Tapi bagaimana kita menyikapi status itu. Kalau kita menyikapinya dengan positif, kreatif, dan rasa syukur, apa pun statusnya kita akan dapat menikmatinya. Enjoy and Asyik. Sebaliknya, kalau kita menyikapinya secara negatif, penuh keluh kesah, dan hanya melihat sisi yang buruk, status apa pun bisa menjadi penjara yang menyesakkan.
Lalu bagaimana dong dengan ungkapan lama ini – Lahir, kawin dan mati – untuk menggambarkan siklus kehidupan manusia?. Terus terang saya nggak begitu setuju dengan ungkapan itu. Masak lahir dan mati disejajarkan dengan kawin.
Lahir dan mati itu hak preogratif Tuhan. Kita nggak bias memilih mau lahir dimana, sebagai bangsa apa atau mau mati kapan dan dengan cara apa. Itu sepenuhnya wewenang Tuhan. Sedangkan kawin kan pilihan kita sendiri. Kitalah yang memilih mau kawin atau nggak.
Kalau misalnya kita nggak mau, masak sih Tuhan maksa. Dalam “kasus” khusus kadang memang Tuhan “maksa” juga. Tapi secara umum Tuahn member kita kebebasan untuk memilih koq. Free will. Termasuk dalam hal kawin atau nggak.
 Tetapi kan ada tuh pepatah yang bilang, “jodoh di tangan Tuhan. “Betul, tapi pepatah itu sebetulnya mau mengatakan begini: Walaupun kita sudah sangat keras nguber, ngejar, ngebet, tapi kalau bukan jodoh ya nggak akan jadi. Tapi sebaliknya, kalau kita nggak mau berusaha, nggak mau membuka diri, ya nggak bisa juga dong. Masak tahu-tahu abracadabra ada cowok or cewek rupawan yang berdri di depan kita dan bilang, “Kawin yuk!”. Percaya dah, Tuhan nggak bakalan menolong orang yang nggak mau menolong dirinya sendiri.
Cukup sekian dulu ya.. tunggu Article tentang Jomblo berikutnya.

Blogger Newbie Salam Kenal

|
Salam Kenal
Saya Harmansyah Blogger Lombok
Semoga Bisa Menjadi Seorang Blogger Yang Baik dan Bermanfaat
Untuk Kita Semua
 
Harmansyah
Harmansyah
Harmansyah
Harmansyah

Latar Belakang

Nama Lengkap saya Harmansyah. Dirumah, saya biasa dipanggil dengan sapaan Arman, Maman, Mamang, Ja'im, Gai haha banyak sekali. Sedangkan teman-teman saya memanggil saya dengan sapaan Arman atau Mamang. Saya lahir di Kota Gerung, 12 Februaru 1983. Saya anak ketiga dari lima bersaudara. Babah saya bernama H. Muhammad Hamzah Hardi (Almarhum) dan Umi saya bernama Hj. Siti Zaenap.

Babah saya dulu bekerja sebagai Pengusaha pedagang kelontong di sebuah usaha perniagaan kecil di Gerung. Sedangkan umi saya adalah seorang ibu rumah tangga namun terkadang suka membantu babah usaha dagang di toko. Akan tetapi setelah babah saya meninggal, umi mulai turun menggantikan babah menjalankan usaha babah serta dibantu oleh semua anak-anaknya termasuk saya.

Saat ini saya tinggal di Jln. Ahmad Yani, Perigi, Kelurahan Gerung Selatan, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat 83363. Saya masih tinggal bersama orang tua dan adik dan kakak saya.

Adik pertama saya bernama Eti Putri Ningsih sudah menikah, bekerja sebagai ibu rumah tangga dan membantu umi menjalankan usaha babah. Adik kedua saya bernama Hardiansyah, masih kuliah jurusan Tekhnik Pertanian di Universitas Mataram di Mataram dan ikut membantu umi menjalankan usaha babah.

Kakak pertama saya bernama Herningsih, ia belum menikah karena ada sesuatu hal dan ia bekerja ikut membantu umi menjalankan usaha almarhum babah. Sedangkan kakak kedua saya bernama Herwansyah, ia sudah menikah dan memiliki usaha sendiri di bidang jual beli mobil bekas.

Saya mempunyai hobi bermain game dan kumpul bareng teman-teman. Kalau diajakin main game apalagi dota saya adalah orang yang paling antusias.

Riwayat Pendidikan

Saya merupakan Alumni dari SMP Negeri 1 Gerung. Ketika di SMP, saya termasuk orang yang suka sekali untuk bergaul. Ketika jaman SMP dulu banyak perkumpulan anak-anak radio mulai dari remaja hingga dewasa, kami pun ikut membuat perkumpulan tersebut dan memiliki 2 nama perkumpulan yakni Boys Destroyer dan Paragon.

Bisa dibilang pada saat itu saya orangnya gampang sekali bergaul. waktu duduk di kelas 7 sampai 9 alhamdulillah walau saya suka nongkrong sana sini dan suka maen game, saya tidak pernah mendapatkan nilai jelek. Selain perkumpulan disekolah saya juga punya perkumpulan belajar di salah satu masjid tempat tinggal saya yang dipimpin oleh 3 sepupu saya yang memiliki pekerjaan berbeda-beda. Ada guru, karyawan swasta, dan ustad . Alhasil saya selalu mendapatkan rangking 2 dan 3 waktu kelas 7. Ketika di kelas 8 perkumpulan belajar saya bubar dikarenakan ketiga pembimbing kami mulai sibuk karena telah menikah.
Kelas 9, disini saya mulai terpengaruh pergaulan bebas, seprti minum alkohol, drugs, dan lain-lain. Hal ini karena rasa penasaran yang suka saya alami hingga menjadi kebiasaan.

Ketika masuk SMA, saya masih terpengaruh oleh kebiasaan pergaulan buruk ini. Saya sekolah di SMU Negeri 1 Gerung. Yang tadinya kebiasaan buruk saya yang masih di level rendah, semakin meningkat ke level yang cukup tinggi.

Di masa putih abu-abu inilah saya berubah drastis merubah kepribadian saya hampir 89%. Yang tadinya saya suka berkumpul dengan anak-anak kelompok belajar dan anak radio, kini lebih milih berkumpul dengan anak-anak rusak, pergi clubing dan lain-lain.

Walaupun beigtu, tidak tahu kenapa saya terpilih menjadi salah satu pengurus OSIS di SMU Negeri 1 Gerung di bidang keagamaan. Mungkin karena waktu SMP saya suka berkumpul dengan kelompok belajar dimasjid hehe. Nilai saya mulai turun drastis hingga saya menginjak kelas 13. Dan sebaliknya level profesi pemakai saya meningkat ke yang lebih tinggi. Alhasil nilai NEM saya seperti merk salah satu obat kurap, yaitu obat kurap cap 19. Tapi alhamdulillah saya lulus SMA dan di hadiahi sebuah sepeda motor oleh babah dan masih ada sampai sekarang, karena sampai kapan pun motor ini tidak akan saya jual walau banyak makelar motor yang ingin membeli. Motor ini satu-satunya kenangan saya sama babah.

Nah untuk kuliah sebenarnya saya tidak ingin kuliah, namun teman-teman mendorong saya untuk tetap sekolah sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Akhirnya saya pun mencoba kuliah selama satu tahun di salah satu akademi di mataram yang dulu bernama ASM kini berubah menjadi AMIKOM dan katanya berubah lagi tidak tahu menjadi apa. Disana saya mengambil jurusan Informatika dan alhamdulillah walau saya jarang masuk kuliah saya lulus dan didampingi babah ketika diwisuda.

Selama satu tahu setelah lulus kuliah saya membantu babah di toko, setelah satu tahun berlalu babah menyarankan saya untuk kuliah lagi ditempat kuliah yang berbeda. Yaa saya kuliah lagi di salah satu sekolah tinggi swasta di Mataram bernama STMIK BUMIGORA Mataram dan mengambil jurusan D3 Teknik Informatika. Tidak tahu semester berapa, saya lupa, babah meninggalkan kami sekeluarga untuk menghadap sang pencipta. Awalnya beliau dinyatakan memiliki penyakit komplikasi oleh dokter dan harus dioperasi. Dokter menyarankan agar operasi ini menggunakan laser, tapi babah saya menolak dan ingin operasi menggunakan cara biasa, katanya sih agar lebih bersih. Ada 2 dokter yang menangani babah saat itu, spesialis penyakit luar dan spesialis penyakit dalam. Setelah beberapa hari selesai operasi babah dibolehkan pulang oleh dokter. Tetapi selama dirumah, sakit pada sekitar bagian operasinya babah kambuh (seingat saya ada 3 bagian pada tubuh babah yang dioperasi) dan dirujuk kembali kerumah sakit. Disitulah awal kesedihan saya yang cukup dalam mulai saya jalani. Kedua dokter spesialis saling menyalahkan kenapa pasiennya bisa seperti ini. Dan akhirnya babah pun dipanggil sang pencipta.

Kata-kata mutiara semua pasti ada hikmah dan hadiahnya ini benar adanya. karena dengan tiadanya babah dikeluarga saya, saya akhirnya bangkit merubah drastis pergaulan buruk saya dari yang buuk menjadi baik dan menggenjot semangat belajar saya dikampus, supaya saya bisa lulus tepat 3 tahun dan akhirnya saya pun lulus dan wisuda, tetapi tanpa didampingi babah.

Sekarang saya udah menikah dan bekerja di percetakkan milik salah satu sahabat saya waktu sekolah SMP dulu.
Welcome To My Blog